Desa Pemongkong kembali menegaskan nilai gotong royong dan empati sosial sebagai fondasi utama kepemimpinan publik. Kepala Desa Pemongkong, Rudi Muliono, S.Sos., bersama Anggota DPRD Kabupaten Lombok Timur, Mahdan, S.H., menghadiri kegiatan dzikir dan doa atas wafatnya salah seorang warga Dusun Ujung Barat, Almarhumah Nurhasanah (Inaq Wiwin).
Kehadiran pimpinan desa dan wakil rakyat ini bukan sekadar seremonial belasungkawa, melainkan wujud nyata tanggung jawab moral dan sosial pemimpin terhadap warganya. Kegiatan tersebut juga diisi dengan pemberian santunan kepada keluarga Almarhumah, sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian sosial yang berlandaskan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.
Kepala Desa Pemongkong hadir bersama jajaran Perangkat Desa (Perades), BPD, LKD, serta tokoh masyarakat setempat, memperlihatkan sinergi kelembagaan desa dalam merawat hubungan sosial yang harmonis. Dalam konteks pembangunan desa, kepedulian sosial seperti ini merupakan “modal sosial” yang tidak kalah penting dibanding pembangunan fisik, karena memperkuat kepercayaan, kebersamaan, dan kohesi sosial masyarakat.
Keluarga Almarhumah menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus atas perhatian, kepedulian, dan santunan yang diberikan. Bagi keluarga, kehadiran dan perhatian langsung dari Kepala Desa dan Anggota DPRD menjadi penguat batin di tengah duka, sekaligus bukti bahwa negara dan pemerintah desa benar-benar hadir di saat warganya membutuhkan.
Secara substantif, kegiatan ini menegaskan bahwa kepemimpinan yang baik tidak hanya diukur dari program dan anggaran, tetapi juga dari kepekaan sosial, keteladanan, dan keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan. Inilah praktik kepemimpinan yang tidak berjarak dengan rakyat—hadir, mendengar, dan menguatkan.(MS).